Tampilkan postingan dengan label Seks. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Seks. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 Agustus 2013

Pakai Kondom Meningkatkan Bakteri Baik

Fungsi kondom ternyata tak sebatas mencegah kehamilan yang tidak diinginkan serta penularan infeksi seksual. Penggunaan kondom mungkin akan meningkatkan jumlah bakteri baik di vagina.

Penelitian di China menunjukkan, wanita yang aktif secara seksual dan menggunakan kondom memiliki koloni bakteri baik yang lebih banyak di vaginanya, dibandingkan dengan wanita yang memakai metode kontrasepsi lainnya.

Dalam riset ini para peneliti lebih fokus pada laktobasilus, jenis bakteri yang mendominasi flora alami di vagina kebanyakan wanita. Mikroba ini memproduksi asam laktat dan hidrogen perioksida, sehingga tingkat keasaman (pH) vagina berada sekitar 4.5. Tingkat keasaman tersebut setara dengan keasaman bir atau jus tomat.

Dengan tingkat keasaman tersebut maka tumbuhnya bakteri jahat bisa dihambat. Bakteri jahat yang terlalu banyak bisa menyebabkan keputihan, rasa gatal, bahkan infeksi.

Kehadiran laktobasilus juga akan mencegah vaginosis, yakni ketidakseimbangan bakteri di vagina sehingga menyebabkan cairan vagina berlebih dan berbau tidak sedap. Bahkan kehadiran bakteri baik juga akan mengurangi risiko penularan HIV.

Dalam penelitian yang dilakukan di Beijing Friendship Hospital, dilibatkan 164 wanita yang sudah menikah dan berusia 18-45 tahun. Seluruh responden adalah mereka yang tidak menggunakan kontrasepsi hormonal seperti pil.

Sekitar 72 responden memilih kondom, 57 orang menggunakan IUD (spiral), dan 35 memiliki metode KB "kalender" atau absen berhubungan seksual saat sedang subur.

Ternyata jumlah laktobasilus pada wanita yang menggunakan kondom paling tinggi dibanding dengan kelompok kontrasepsi lainnya.

Hubungan seksual diketahui bisa mengganggu keseimbangan ekosistem vagina, terutama karena cairan mani (kadar pH sekitar 7-8) bercampur dengan cairan vagina.

Penggunaan kondom diketahui akan mencegah terjadinya pencampuran tersebut sehingga tingkat keseimbangan bakteri di vagina tetap terjaga.

Meski begitu, para peneliti menyebutkan bahwa kondom bukanlah metode kontrasepsi terbaik untuk mencegah kehamilan. Tingkat kegagalan kondom sekitar 15 persen, sementara IUD memiliki tingkat kegagalan 0,6-0,8 persen pada tahun pertama dan semakin lama semakin efektif.

Minggu, 04 Agustus 2013

Seks Usia Muda Sebabkan Risiko Kanker


Hubungan seksual pada usia di bawah 17 tahun diketahui dapat merangsang tumbuhnya sel kanker pada organ kandungan perempuan, karena pada rentang usia 12-17 tahun, perubahan sel dalam mulut rahim sedang aktif sekali.
Perlu diketahui, ketika sel sedang membelah secara aktif (metaplasi), idealnya tidak terjadi kontaks atau rangsangan apa pun dari luar, termasuk injus (masuknya) benda asing dalam tubuh perempuan.
Dengan adanya benda asing, termasuk alat kelamin laki-laki dan sel sperma, akan mengakibatkan perkembangan sel ke arah yang abnormal. Apalagi kalau sampai terjadi luka yang mengakibatkan infeksi dalam rahim.
Sel abnormal dalam mulut rahim itu dapat mengakibatkan kanker mulut rahim (serviks). Kanker serviks yang menyerang alat kandungan perempuan, berawal dari mulut rahim dan berisiko menyebar ke vagina hingga keluar di permukaan.
Selain itu, kanker serviks juga berisiko menyebar ke organ lainnya di dalam tubuh, misalnya uterus, ovarium, tuba fallopi, ginjal, paru-paru, lever, tulang hingga otak.
Jika telah mencapai stadium lanjut dan menyebar ke organ tubuh lain, maka kanker serviks dapat mengakibatkan kematian. Penderita stadium lanjut umumnya harus mengangkat organ alat kandungan dan kemungkinan mempunyai anak menjadi tidak mungkin.
Di seluruh dunia, terdapat sekitar 100 jenis strain virus penyebab kanker serviks, yaitu virus HPV (Human Papilloma Virus). Strain yang terganas adalah tipe 16 dan 18. Gejala yang sering muncul pada penderita biasanya timbulnya keputihan yang berbau dan berulang-ulang serta terjadi pendarahan di bagian kemaluan ketika sedang tidak haid.
Oleh karena itu, dianjurkan agar kaum perempuan menikah setelah berusia lebih dari 17 tahun dan menerapkan perilaku seksual yang sehat. Selain itu, perlu juga dilakukan deteksi dini untuk mencegah terjadinya kanker serviks stadium lanjut, salah satunya dengan melakukan tes pap (pap smear).